BOLSEL – Empat desa di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel) kini memiliki pemimpin definitif melalui mekanisme pergantian antar waktu. Pemerintah Kabupaten Bolsel memberhentikan para Penjabat Sangadi (kepala desa) sekaligus mengesahkan dan mengangkat empat Sangadi Antar Waktu dalam sebuah prosesi di Lapangan Futsal Kompleks Perkantoran Panango, Rabu (23/9/2026).
Keempat Sangadi itu akan memimpin Desa Salongo Timur untuk masa jabatan 2026–2029. Sementara Desa Onggunoi Selatan, Desa Perjuangan, dan Desa Dumagin B masing-masing memiliki masa jabatan 2026–2030.
Wakil Bupati Bolsel Deddy Abdul Hamid mengatakan pergantian tersebut bukan sekadar pergantian pejabat di tingkat desa. Menurut dia, pelantikan sekaligus menandai berlanjutnya tanggung jawab pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada para Penjabat Sangadi yang telah melaksanakan tugas dan tanggung jawab dengan penuh dedikasi,” kata Deddy dalam sambutannya.
Baca: Bolsel Raih Dua Penghargaan Bidang Hukum
Para Penjabat Sangadi, kata dia, telah memastikan roda pemerintahan desa tetap berjalan selama masa tugas mereka. Pelayanan masyarakat, administrasi pemerintahan, pembangunan, hingga program pemberdayaan tetap harus berlangsung meski kepemimpinan definitif belum terbentuk.
Karena itu, kepada empat Sangadi Antar Waktu yang baru dilantik, Deddy meminta agar masa transisi tidak berlangsung terlalu lama. Mereka diminta segera memahami persoalan desa sekaligus membangun komunikasi dengan berbagai unsur masyarakat.
“Selamat menjalankan amanah dan selamat bekerja untuk masyarakat. Jabatan Sangadi bukan semata-mata sebuah kedudukan, tetapi merupakan sebuah tanggung jawab,” ujarnya.
Deddy mengingatkan bahwa pemerintahan desa tetap harus bekerja meski terjadi pergantian kepemimpinan. Karena itu, Sangadi baru diminta segera berkoordinasi dengan Badan Permusyawaratan Desa, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, serta perangkat desa.
Menurut dia, pergantian pemimpin tidak semestinya membuat pelayanan kepada masyarakat ikut terhenti.
“Jangan terlalu lama berada pada fase penyesuaian diri. Pemerintahan desa tidak memiliki tombol ‘power’ untuk berhenti,” kata Deddy.
Baca: Deddy Abdul Hamid Tekankan Penguatan Pengawasan Keuangan Desa
Ia meminta Sangadi baru langsung menyatukan seluruh perangkat desa dalam satu tim kerja. Tidak boleh ada pembelahan berdasarkan siapa yang lebih dulu menjabat atau siapa yang baru masuk dalam pemerintahan.
Bagi Deddy, pemerintahan desa harus bekerja dengan satu tujuan: memastikan masyarakat mendapatkan pelayanan dan pembangunan yang berjalan.
“Tidak boleh ada lagi kelompok lama maupun kelompok baru, melainkan satu pemerintahan desa dengan satu tanggung jawab dan satu tujuan, yaitu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” katanya.
Ia juga meminta perangkat desa membantu Sangadi baru memahami kondisi pemerintahan dan persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Keberhasilan seorang Sangadi tidak hanya ditentukan oleh Sangadi itu sendiri, tetapi juga oleh seberapa kuat seluruh pemerintahan desa bekerja sebagai sebuah tim,” ujar Deddy.
Selain soal soliditas pemerintahan, Deddy menaruh perhatian pada pengelolaan keuangan desa. Ia mengingatkan Sangadi agar tidak membuat keputusan penting secara sepihak, terutama yang berkaitan dengan penggunaan Dana Desa dan Alokasi Dana Desa.
Setiap keputusan, menurut dia, harus dibicarakan melalui mekanisme yang berlaku dan melibatkan pihak terkait.
“Jangan Sangadi mengambil keputusan sendiri, tetapi musyawarahkan bersama. Pengelolaan dana desa saat ini sangat diperhatikan dan dapat menjadi objek pemeriksaan oleh aparat pengawasan,” katanya.
Deddy meminta anggaran desa diarahkan untuk kepentingan masyarakat dan mendukung program pembangunan yang telah direncanakan.
“Setiap rupiah yang dikelola adalah amanah masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menilai empat Sangadi Antar Waktu yang dilantik memiliki modal pengalaman karena sebelumnya pernah menjabat sebagai Sekretaris Desa. Pengalaman tersebut, menurut Deddy, dapat membantu mereka memahami administrasi pemerintahan sekaligus tata kelola keuangan desa.
“Alhamdulillah, dari empat Sangadi yang dilantik, semuanya merupakan mantan Sekretaris Desa sehingga tata kelola pemerintahan dan tata kelola dana desa sudah dipahami,” kata dia.
Meski demikian, Deddy meminta pengalaman tersebut tidak membuat para Sangadi berhenti belajar. Mereka tetap diminta membuka ruang komunikasi dengan aparatur dan pihak lain yang memiliki pengalaman dalam pemerintahan desa.
Pelantikan empat Sangadi Antar Waktu berlangsung ketika Pemerintah Kabupaten Bolsel juga memasuki tahapan Pemilihan Sangadi serentak.
Deddy meminta seluruh unsur masyarakat ikut menjaga situasi tetap aman selama proses tersebut berlangsung. Perbedaan pilihan, kata dia, merupakan bagian dari proses politik di desa dan tidak seharusnya berujung pada renggangnya hubungan antarwarga.
“Mari kita jaga keamanan selama tahapan berlangsung. Jangan sampai perbedaan memutus kekeluargaan yang telah kita bangun,” ujarnya.
Pemerintah Kabupaten Bolsel, kata Deddy, akan tetap memberikan dukungan kepada pemerintahan desa melalui kebijakan dan pengalokasian anggaran untuk pembangunan serta pelayanan masyarakat.
Namun, ia mengingatkan bahwa dukungan anggaran saja tidak cukup. Sangadi harus hadir di tengah masyarakat dan tidak membangun jarak dengan warga.
“Jangan membangun jarak dengan masyarakat. Ukuran keberhasilan seorang Sangadi adalah seberapa baik kehadiran pemimpin desa di tengah masyarakat,” kata Deddy.
Pelantikan tersebut dihadiri para Asisten Sekretariat Daerah Kabupaten Bolsel, pimpinan organisasi perangkat daerah, pejabat yang dilantik, serta sejumlah undangan lainnya.








